Trip Berfaedah ala Miss Rindah

Asalamualaikum, w.w.,

hallo guys, setelah sejuta tahun gak nulis, akhirnya ada alasan juga untuk aku mengisi blog aku yang sudah dipenuhi oleh sarang laba-laba ini.

Yap, apalagi kalau bukan karena aku abis melakukan sebuah perjalanan, hehehe…

WhatsApp Image 2018-08-22 at 10.20.55 PM

Dan inilah kisahnya… kuy sabar membaca…

Tahun lalu, pasca aku balik dari Filipina, aku bertekad untuk melakukan solo backpacking trip around ASEAN countries 2018. Aku mulai nyicil untuk beli tiket pesawat dan bikin itinerary selama perjalanan disana. Btw di tulisan kali ini, aku ngga akan cerita secara detail tentang kisah jalan-jalan aku, melainkan fokus ke kegiatan sosial yang aku bawa selama jalan-jalan, yaitu donasi mukena untuk masjid di negara minoritas muslim. Niatnya sih biar jalan-jalan ini berfaedah guys, nggak cuma sekedar traveling B aja.

Ok, jadi dalam trip aku kali ini, Alhamdulillah aku berkesempatan mengunjungi 4 negara-6 kota, yaitu Malaysia, Kamboja (Phnom Penh, Kampot), Thailand (Bangkok, Chiang Mai), dan Singapura (19 Juni – 3 Juli 2018). Namun, aku membagikan donasi mukena hanya di 2 negara saja, which are Cambodia and Thailand (karena menurutku Malaysia dan Singapura itu termasuk negara maju yang penduduk muslimnya banyak).

 

Untuk mendapatkan dana donasi, awalnya aku hanya mau menggunakan uang pribadi aja guys, karena aku gak akan mungkin bawa mukena banyak-banyak dikarenakan aku nggak beli bagasi pesawat yang 20kg itu, aku hanya dapet kabin 7kg di semua penerbangan. So, aku harus bawa barang se-compact mungkin biar semuanya bisa fit into the cabin. Namun, kakak aku (Uni Ayu, yang juga ikut dalam trip kali ini tapi hanya sampai Bangkok), menyarankan untuk mengajak teman-temanku yang lain untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini, because why not. Walhasil, aku mengontak temenku si penganten baru (Hana Maulida) untuk membantu membuat e-poster gerakan ini. Alhamdulillah doi mau, ditengah kesibukannya memilah potongan apel mana yang layak dimasukan ke kotak bekal makan siang suaminya (wkwkwk, peace Han).

Dan beginilah e-posternya guys…

WhatsApp Image 2018-08-22 at 7.58.40 PM

Ciamik ya?

Dan Alhamdulillah, baru satu hari dirilis via status WA dan disebar ke banyak grup WA (karena aku udah ga main other socmeds) Alhamdulillah banyak donatur yang mau berpartisipasi. Ada 18 manusia mulia yang mau berpartisipasi, mulai dari temen kuliah, temen komunitas, temen SMA, temen ngajar, temen ODOJ, orangtua murid-muridku di Al-Azhar Summarecon Bekasi, dll yang namanya tidak ingin disebutkan satu per satu. Total donasi yang terkumpul yaitu Rp3.100.000,- (tiga juta seratus ribu rupiah).

WHATTTTT!!! Aku jujur ga nyangka bisa dapat sebanyak itu. Aku pikir hanya dapet beberapa ratus ribu aja, gak nyangka bisa selumayan itu dapetnya, padahal hanya sekitar satu minggu aja aku nge-share e-posternya hingga batas waktu penutupan donasi.

Dan, masalah seriusnya yaitu, gak mungkin uang sebanyak itu aku belikan mukena semua, karena:

  1. Aku hanya punya 7kg untuk barang bawaanku di pesawat.
  2. Setelah ditimbang ulang, tidak semua masjid membutuhkan mukena, pasti ada yang lebih membutuhkan uang untuk keperluan logistik masing-masing masjid.

Maka dari itu, aku tidak membelikan semua hasil donasinya berupa mukena. Semoga para donatur dapat memakluminya :’)

Berikut laporan keuangan hasil donasi:

  1. Pemasukan: Rp3.100.000,-
  2. Pengeluaran:– 12 Mukena = Rp540.000,-– 4 Sarung = Rp160.000,-

    – Exchange rupiah ke Dollar = Rp2.340.600 = 166 USD

  3. Saldo: Rp59.400,- (disumbangkan ke Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran, karena saya exchange uang di bandara, sehingga tidak mungkin sisa uang rupiah tersebut saya sumbangkan di luar negeri).

 

Untuk pembelian mukena dan sarung dilakukan di Pasar Wisma Asri, Bekasi Utara. Mohon maaf tidak ada struk-nya karena tokonya tidak menyediakan struk. Namun insyaa Allah saya jujur tidak ada sepeserpun dana donasi yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Dan untuk exchange rupiah, bukti pembeliannya ada di foto berikut ini:

WhatsApp Image 2018-08-22 at 7.36.35 PM

Lalu, ke masjid mana saja donasi tersebut disalurkan?

  1. Al-Serkal Mosque & KM 7 Mosque, Phnom Penh (Kamboja)

22 Juni 2018. Awalnya, kami mau menaruh banyak mukena di masjid ini. Namun, saat berusaha untuk mengontak pengurus masjid, aku dan kakaku tidak bisa menemukan orangnya. Akhirnya, kami berkenalan dengan seorang bapak-bapak bernama Syukri ketika sedang berada di Masjid Al-Serkal. Pak Syukri merupakan penduduk asli Kamboja, kampungnya di Kampong Cham, salah satu kampung islam yang ada di Kamboja. Kebetulan Pak Syukri bisa sedikit berbahasa Melayu, karena ia pernah menamatkan studi S2-nya di Malaysia (eh saya lupa S1 atau S2-nya ya). Kemudian dengan baik hati Pak Syukri menjelaskan tentang sejarah singkat masjid ini.

WhatsApp Image 2018-08-22 at 7.05.17 PM (4)

Ternyata, Masjid Al-Serkal ini merupakan masjid terbesar di Phnom Penh. Didirikan oleh sebuah keluarga Arab dalam rangka waqaf untuk kemashlahatan warga muslim di Kamboja. Fasilitas di masjid ini juga terbilang lengkap, bahkan tempat sholat laki-laki dan perempuan dipisahkan tidak hanya oleh tirai, tapi tembok (jadi beda tempat tapi masih satu bangunan). Tempat wudhu (wanita) cukup besar, dilengkapi dengan toilet yang bersih-bersih.

Pak Syukri kemudian menyarankan untuk tidak terlalu banyak menaruh mukena disini, karena dari segi fasilitas masjid ini sudah sangat lengkap dan secara kontinu mendapatkan sumbangan dari Dubai. Kami pun mengaminkan pendapat Pak Syukri. WhatsApp Image 2018-08-22 at 7.05.16 PMNamun, karena sudah jauh-jauh datang ke Masjid Al-Serkal ini, akhirnya kami tetap menaruh mukena di sini walau hanya satu buah.

Kemudian, satu lagi kebaikan Pak Syukri, beliau dengan senang hati mengantar kami menuju masjid-masjid sekitar Phnom Penh yang lebih membutuhkan. Dan Alhamdulillah kami menemukan satu masjid yang sedang dalam proses pembangunan. Masjid tersebut bahkan belum diberi nama (masih disebut Masjid KM 7, karena berada di KM 7 Kota Phnom Penh). Melihat kondisi masjid tersebut, kami memutuskan untuk menaruh tidak hanya mukena dan sarung, tapi juga Dollar yang ada. Kami menitipkan 4 mukena, 1 sarung, dan uang USD100 untuk keperluan pembangunan masjid. Alhamdulillah kami juga bisa bertemu dengan pengurus masjid tersebut secara langsung, sehingga donasi bisa tersalurkan dengan amanah, insyaa Allah. Kami sempat bercakap-cakap dengan pengurus masjid tersebut, beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada saudara-saudara donatur Indonesia yang dengan baiknya mau untuk menyedekahkan sebagian hartanya untuk masjid di Kamboja. Salam hangat dari mereka.

WhatsApp Image 2018-08-22 at 10.22.30 PM

Dalam perjalanan di hari tersebut, masih ada sisa 3 mukena dan 1 sarung lagi yang kami bawa. Kami memutuskan untuk menitipkannya pada Pak Syukri. Menurut cerita beliau, banyak surau/musholla yang tersebar di wilayah kampungnya (Kampong Cham) yang juga membutuhkan donasi. Setelah kami pertimbangkan, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan sisa donasi mukena dan sarung tersebut kepada Pak Syukri untuk disalurkan di mushola Kampong Cham.

WhatsApp Image 2018-08-22 at 10.21.48 PM

Kami percaya pada beliau, insyaa Allah amanah dalam menyalurkan donasi tersebut. Jika ada donatur yang ingin memastikan, bisa japri ke WA aku untuk mendapatkan nomor pribadi Pak Syukri.

 

  1. Kampong Muslim Mosque, Kampot Province (Kamboja)

24 Juni 2018. Lho kok Kampot? bukannya di e-poster ditulisnya Siem Riep?

Jadi begini guys, awalnya rencana kita mau ke Siem Riep setelah Phnom Penh. Namun, ternyata budgetnya ngga cukup guys, hehehe. Ternyata, spot lokasi di Siem Riep (Angkor Wat) itu cukup muahalll, biaya masuknya aja sekitar 350rb, belum termasuk ongkos perjalanan, penginapan, dan biaya transportasi tambahan selama di dalam Angkor Wat. Jadi Angkor Wat itu sangat super duper luas guys, maka kita perlu sewa kendaraan macem delman/bemo gitu lah untuk keliling Angkor Wat. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk pergi ke Kampot Province, bagian timur Kamboja. Menurut temanku Leakna (sekaligus host dan tour guide aku selama di Kamboja, teman YSEALI-ku), Kampot Province ini juga menawarkan destinasi wisata yang menarik dan cenderung wisata alam, seperti sungai Mekong, air terjun, sawah, dll. Mendengar kata “alam”, maka aku langsung YES tanpa pikir panjang. Maka kami pun berakhir di Kampot Province keesokan harinya.

Lalu, masjid mana yang jadi tujuan kita?

Yuhu, Alhamdulillah kita juga berkesempatan untuk melihat kampung muslim di Kampot. Kita sama sekali ngga menyangka, ternayata penduduk muslim di sana lumayan banyak, dan mereka hidup rukun dan damai dengan warga sekitar yang mayoritas beragama Budha. Bahkan, penduduk muslim ini punya pasar ikan tersendiri karena wilayah kampung mereka yang berhadapan langsung dengan Sungai Mekong yang luass bingits sehingga mata pencaharian mereka pun banyak yang menjadi nelayan ikan air tawar.

Namun sayang banget guys, sedih deh, ternyata masjid mereka pun masih dalam tahap pembangunan. Karena dana yang sangat minim, tidak banyak warga lokal yang berpartisipasi dikarenakan kondisi ekonomi mereka juga yang cenderung menengah ke bawah, akhirnya masjid itu sampai detik ini belum selesai dibangun. Kami bertemu dengan salah satu pengurus masjid tersebut bernama Pak Sen Salim. Beliau memperlihatkan sebuah album dimana ternyata dulu pernah ada juga warga Indonesia yang turut bersedekah membantu pembangunan masjid tersebut, tapi tidak sampai selesai. Kini, mereka masih mencari donatur untuk menuntaskan pembangunan masjid tersebut. Dan Pak Sen Salim sangat senang sekali saat kami datang membawa kabar untuk berdonasi.

WhatsApp Image 2018-08-22 at 10.25.06 PM

Aku sedih banget pada saat itu, menyesal karena tidak membawa lebih banyak donasi. Aku hanya membawa 1 mukena saja, karena persediaanku ditinggal di kosan Leakna di Phnom Penh. Kami hanya membawa sedikit barang bawaan ke Kampot agar memudahkan mobilisasi. Walhasil, kami memutuskan untuk memberikan donasi berupa Dollar yang tersisa, sebanyak USD66 untuk keperluan pembangunan masjid tersebut. Semoga masjid tersebut bisa segera selesai dan bisa menjadi pusat ibadah dan studi masyarakat muslim di Kampot Province, aamiin.

 

  1. Ban Oou Mosque, Bangkok (Thailand)

26 Juni 2018. Plop! kami sekarang berada di Bangkok, Thailand. Di hari kedua kami berada di sana, kami menemukan sebuah masjid yang berada di sudut Kota Bangkok (Oya, alamat lengkap tiap masjid bisa langsung kalian klik di setiap judul masjid). Untuk mencapai masjid ini cukup lama pemirsa, karena kami harus naik perahu dulu melewati Sungai Chao Praya dari Wat Arun, kemudian jalan kaki sekitar 2-3 KM. Bangunan masjid yang lebih mirip ruko ketimbang masjid ini membuat kami hampir galau, apakah ini benar tujuan kita atau bukan. Tapi, setelah melihat plang masjid, kami yakin inilah tempatnya.

Nah, sebelum masuk masjid, kami cari tempat makan dulu karena itu sudah jadwalnya makan siang. Mumpung lagi ada di kawasan sekitar masjid, asumsi kami harusnya banyak pedagang muslim/tempat makan halal lah yaaa.. Alhamdulillah dugaan kami benar. Ada sebuah warung pinggir jalan yang menjual makanan khas Thailand yang halal. Kami order Pad Thai dan Thai chicken rice. Penjualnya seorang ibu-ibu muslim paruh baya yang sangat ramah, walaupun ia tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Dia terus berbicara dengan bahasa Thailand, hanya “Hot” yang bisa dia katakan dalam bahasa Inggris saat hendak menjelaskan kenapa ia tidak memakai jilbab, hehehe. Ibu ini menyangka kita orang Malaysia (di Kamboja pun seperti itu, entah mengapa sedih banget rasanya mengetahui fakta bahwa orang luar negeri lebih banyak mengenal Malaysia daripada Indonesia), lalu kita jelaskan saja asal kita darimana. Setelah itu, karena kami empati terhadap kondisi ibu-ibu ini, akhirnya kami bersepakat untuk menyumbangkan satu mukena kepada ibu ini. Ibu (yang ternyata bernama Rokiya) ini, wajahnya sangat berbinar-binar saat kami berikan mukena, dia sangat berterima kasih pada donatur Indonesia. Dia bahkan meminta nomor HP-ku serta aku pun menyimpan nomornya, jikalau takdir masih bisa mempertemukan kita. Ah, rasanya senang sekali, seperti bertemu saudara saja.

WhatsApp Image 2018-08-22 at 10.23.52 PM

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Ban Oou, sholat dzuhur dan melakukan ibadah lainnya. Tempatnya cukup nyaman, sehingga kami berlama-lama di sana sampai waktu sholat ashar tiba. Ada seorang murid SMA, warga lokal Bangkok, yang sholat di sana selepas pulang sekolah. Nyaman sekali hati ini melihat pemandangan tersebut, anak itu memakai jilbab dan dia sholat tepat waktu, sebagai warga minoritas di negara Thailand, bagiku itu luar biasa. Karena di sekitar situ tidak ada sekolah, maka perjalanan ia menuju masjid pasti tidak dekat. Harusnya bisa menjadi panutan bagi anak-anak sekolah di Indonesia untuk sholat tepat waktu walau kondisi baru pulang sekolah, tapi bisa menyempatkan diri datang ke masjid.

Setelah itu kami menitipkan satu mukena dan satu sarung di Masjid tersebut. Ada seorang ibu-ibu yang bertanya, kenapa kamu meninggalkan mukena tersebut? apakah itu untuk sedekah? Aku jawab iya bu, dari warga Indonesia. Ibu itu langsung tersenyum dan berdoa semoga berkah. aamiin.

 

  1. Hedaytul Islam Mosque, Chiang Mai (Thailand)

2 Juli 2018. Ini adalah masjid terakhir dalam perjalanan ini. Alhamdulillah, temanku Noona (nama aslinya Arusa Panyakotkaew, juga teman YSEALI-ku) mau mengantarku ke masjid tersebut. Selama di Chiang Mai, aku tinggal di rumah Noona (kakaku sudah kembali ke Bekasi city karena harus menyicil thesis-nya). Noona selalu mengantarku ke tempat-tempat yang menarik, dan salah satunya masjid ini.

WhatsApp Image 2018-08-22 at 7.05.20 PM (1)

Noona excited banget main ke masjid, karena ini adalah pengalaman pertamanya masuk masjid. Ia kagum dengan kebaikan orang Indonesia yang mau berdonasi untuk masjid di Chiang Mai. Aku menceritakan sedikit tentang Islam, mengapa wanita harus menggunakan jilbab, tentang Islam adalah agama yang damai dan teroris bukanlah Islam. Noona bahkan mencoba menggunakan jilbab dan mukena.

Tersisa satu mukena dan satu sarung yang bisa disumbangkan untuk masjid ini. Walau sedikit, namun semoga saja bisa menjadi amal jariyah bagi seluruh donatur.

 

Lengkap sudah semua ceritanya, kesimpulannya yaitu:

Total donasi = 12 mukena, 4 sarung, USD166, Rp59.400,-

1 mukena untuk Al-Serkal Mosque, Phnom Penh

4 mukena,1 sarung, dan USD100 untuk Masjid KM 7, Phnom Penh

3 mukena dan 1 sarung untuk mushola di Kampong Cham

1 mukena dan USD66 untuk Masjid Kampung Muslim, Kampot

1 mukena untuk Ibu Rokiya pedagang makanan, Bangkok

1 mukena dan 1 sarung untuk Ban Oou Mosque, Bangkok

1 mukena dan 1 sarung untuk Hedaytul Islam Mosque, Chiang Mai.

 

Jazakumullah khayran katsiran, terima kasih banyak kami ucapkan kepada seluruh donatur. Hanya Allah SWT yang bisa membalas kebaikan kalian. Semoga diganjar dengan sebaik-baik pahala untuk bekal di akhirat serta keberkahan rezeki di dunia. aamiin yaa Rabb.

Semoga trip kali ini bisa menjadi penggerak kegiatan positif buat generasi zaman now dan seterusnya 😉

 

Jika ada yang masih ingin ditanyakan oleh donatur, feel free to whatsapp me 🙂

Jika ada pembaca yang ingin bertanya, feel free to drop a comment below :))

Thank you so much.

Wasalamualaikum, w.w.

 

Nb: beberapa nama di atas dapat langsung di-klik dan terhubung ke socmed masing-masing, jika ada yang ingin lansgung mengonfirmasi 🙂

Iklan

Satu pemikiran pada “Trip Berfaedah ala Miss Rindah

  1. rindaaah.. ku rinduuu kamuuu
    masih inget aku kan?
    kamu selalu keren dari dulu sampe sekarang
    aku mau donasi juga kalo aku tau kabar kamu lebih cepet .. hiksss

    btw, aku jadi first star yaa disini
    dapet apa nih bu guru?
    contact mu boleh hihii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s