Studi Banding ke Jakarta Japanese School

Asalamualaikum w.w.,

Pada tulisan kali ini, saya akan membagikan pengalaman ketika melakukan studi banding ke salah satu sekolah Jepang yang ada di Indonesia, yaitu JJS (Jakarta Japanese School).

WhatsApp Image 2017-11-08 at 8.23.54 PM

Selasa, 7 November 2017, saya dan 14 guru SDIA 44 Summarecon Bekasi lainnya berkesempatan untuk melakukan studi banding tentang manajemen sekolah di JJS. Kami berangkat dari Bekasi sekitar pukul 05.30 WIB dengan menggunakan minibus. Kami sengaja berangkat super pagi agar dapat menghindari kemacetan lalu lintas menuju Jakarta. Alhamdulillah, sekitar pukul 07.20 WIB kami sudah sampai di lokasi. Jakarta Japanese School berada di Jl. Titihan Raya, Bintaro Jaya Sektor 9 Parigi-Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Memasuki gerbang JJS, kami disuguhkan dengan pemandangan dua lapangan rumput yang cukup luas, berada di kanan dan kiri sekolah. Ada juga deretan mobil bus dan minibus bermerk Blu*bird di pelataran parkir depan sekolah. Jumlahnya puluhan, sehingga awalnya kami mengira kami salah masuk, bukannya masuk ke sekolah Jepang, malah masuk ke pool bus Blu*bird, hehehe. Tetapi semua suudzon itu sirna setelah kami sampai di lobby depan gedung utama (SD-SMP). Di sana telah berdiri dengan sigap seorang bapak berwajah teduh, berkemeja putih dan berkacamata; dialah Bapak Yonemura, Kepala Sekolah SD Jakarta Japanese School.

Ketika kami turun dari mobil, Pak Yonemura langsung menyalami kami dengan senyum ramah dan salam hangat berbahasa Indonesia. Kemudian beliau mengajak kami menuju pos security untuk mendapatkan visitor sign. Setelah itu, hadir kembali salah satu pejabat SD JJS, seorang ibu berpenampilan tegas tapi ramah, yaitu Ibu Tachibana, Wakil Kepala Sekolah SD JJS. Ibu Tachibana memohon izin untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, kemudian mengajak kami berganti alas kaki dengan sandal yang telah disediakan oleh pihak JJS.

Kami diajak masuk ke dalam sebuah ruang serbaguna di area lobby. Karena kedatangan kami lebih pagi dari perkiraan mereka (sekitar 1 jam lebih cepat dari perjanjian awal), maka mereka pun hanya mengantar kami ke ruangan, kemudian kami diperkenankan untuk menunggu hingga jadwal acara dimulai.

Sekitar pukul 08.15 WIB, pihak JJS membuka acara studi banding kami di ruang serbaguna tersebut. Mereka mengapresiasi kedatangan kami yang lebih awal, sehingga acara ini bisa dimulai lebih cepat. Acara dibuka dengan perkenalan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, serta guru-guru Bahasa Indonesia yang menjadi staff guru di JJS (sekaligus yang akan menjadi translator kami selama studi banding). Bapak Yonemura kemudian menjelaskan secara singkat profil JJS.

Jakarta Japanese School sudah berdiri sejak tahun 1968. Di tahun pertamanya, JJS hanya memiliki murid sekitar 15 orang. Jumlah muridnya selalu meningkat setiap tahun (kecuali tahun 1998-1999 sangat menurun drastis, asumsi saya karena adanya krisis moneter di Indonesia pada tahun itu; dan di tahun 2009). Di tahun 2017 ini, jumlah murid di JJS mencapai 1125 orang.

“Tujuan sekolah ini yaitu untuk menciptakan anak-anak yang sehat badannya serta pikirannya”, ucap Pak Yonemura. JJS memiliki target agar murid-muridnya bisa memiliki kecerdasan dalam berpikir, berempati pada orang lain/tidak egois, memiliki raga yang sehat, dan berwawasan global. “Kami juga ingin menerapkan budaya yang ada di Indonesia, yaitu susah-senang tetap bersama”, sambung Pak Yonemura.

Sudut-Sudut Sekolah

Gedung sekolah utama di JJS terdiri dari dua bagian, yaitu sayap kiri (SD) dan sayap kanan (SMP). Gedung ini terdiri dari 3 lantai. Kami hanya mengunjungi sayap kiri (SD) saja, tidak sempat berkunjung ke wilayah SMP.

JJS memiliki dua buah lapangan rumput (seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya), kolam renang, amphiteater, Lab IPA, ruang musik, hall serbaguna, perpustakaan, Lab komputer, ruang keterampilan, ruang memasak, sport hall (indoor), dan lain-lain (yang saya sebutkan adalah ruangan-ruangan yang kami sempat datangi).

Di bagian depan terdapat lobby dan kantin kecil tempat dimana murid dapat membeli snack pada jam istirahat. selain itu ada juga jajaran loker sepatu murid yang ditata sangat rapi sesuai level kelas.

Kurikulum dan Sistem Pendidikan Sekolah di Jepang

JJS menggunakan kurikulum langsung yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan di Jepang. Semua buku pelajaran pun diimport langsung dari Jepang. Untuk belajar di JJS pun, murid harus memiliki kewarganegaraan Jepang (kedua orangtua atau salah satu orangtuanya harus berkebangsaan Jepang). Warga Indonesia murni tidak diperbolehkan bersekolah di JJS. Usia minimum untuk belajar di SD JJS yaitu 6 tahun.

Guru-guru JJS pun semuanya berkebangsaan Jepang. Mereka memiliki kontrak mengajar selama 3 tahun, setelah itu mereka akan kembali lagi mengajar di Jepang.

JJS bukanlah sekolah yang murni inklusif. Pada dasarnya, mereka tidak melaksanakan test seleksi maupun observasi pada murid baru, namun pihak sekolah akan mewawancarai orangtua murid yang putra/putrinya memiliki “keistimewaan”. Jika spektrumnya tidak parah, maka sekolah akan menerima murid tersebut. Namun, jika spektrumnya berada pada level yang harus ditangani oleh guru khusus (special needs teacher), maka sekolah akan menyarankan murid tersebut untuk bersekolah di tempat yang lebih siap dalam menerima murid-murid “istimewa”.

JJS menerapkan sistem caturwulan, berbeda dengan Indonesia yang menerapkan sistem semester. Setiap Caturwulan ada evaluasi khusus bagi murid-murid JJS. Penilaian tersebut menjadi pertimbangan bagi para guru, apakah seorang murid perlu melakukan pengulangan di mata pelajaran tertentu ataukah tidak.

Tidak ada pelajaran agama di JJS. Bagi mereka, ajaran-ajaran baik yang diterapkan pada semua agama pada umumnya sudah diintegrasikan pada mata pelajaran moral. Di Jepang sendiri pun pemerintah melarang sekolah negeri untuk mengadakan pelajaran agama khusus. Tetapi bagi sekolah swasta diperbolehkan untuk mengajarkan pelajaran agama.

Tidak ada Ujian Nasional pada level SD hingga SMP. Murid-murid yang berhasil mendapatkan predikat A atau B pada semua mata pelajaran, maka ia berhak untuk naik ke level SMP. Namun, jika ada predikat C, maka murid tersebut wajib memperbaiki nilai mereka hingga mendapatkan nilai standard (B). Ini dikarenakan Pemerintah Jepang mencanangkan wajib belajar 9 tahun. Jadi, tidak ada test seleksi masuk SMP. Jika murid tersebut sudah lulus SMP, maka ia harus mengikuti seleksi masuk SMA di SMA tujuan masing-masing (test masuk SMA menjadi otoritas pihak SMA, tidak berdasarkan nilai SMP murid).

Setiap orangtua murid akan dibekali dengan buku panduan khusus orangtua yang telah dirancang oleh sekolah. Isinya memuat segala hal yang berkaitan dengan program sekolah, mulai dari kalender akademik, peraturan sekolah, dll. Sekolah biasanya akan mensosialisasikan kepada orangtua murid agar mensinkronisasikan antara pembelajaran di rumah dan sekolah. Jika sekolah menerapkan sikap hidup disiplin, hemat, tepat waktu, maka di rumah pun orangtua harus komitmen untuk membiasakan hal yang sama pada anak-anaknya. Pendidikan di rumah inilah yang sesungguhnya menjadi kunci kesuksesan pendidikan di Jepang. Karakter mereka telah tertanam kuat sejak level pendidikan keluarga, sehingga sekolah tidak perlu mengajarkan tata krama dari nol kepada murid-muridnya.

Kegiatan Sekolah

JJS memiliki banyak kegiatan sekolah, seperti Festival Olahraga, Festival Musim Panas, Lomba Paduan Suara (khusus SMP), Field Trip, dan lain sebagainya. Biasanya, setiap level kelas juga mengadakan festival dengan tema yang sudah ditentukan oleh masing-masing pararel kelas. Ada dua jenis festival menurut penontonnya, yaitu festival yang mengundang orangtua murid serta festival yang hanya ditonton oleh murid-murid.

Di tiap awal tahun ajaran baru, JJS akan mengundang seluruh orangtua murid untuk mengikuti pertemuan awal tahun di sekolah. Kegiatan tersebut terdiri dari 3 bagian, yaitu pertemuan secara umum (seluruh warga sekolah dan semua orangtua murid) membahas hal-hal general yang berkaitan dengan sekolah; pertemuan per level kelas (sesuai dengan level kelas, bersama kelas pararel) membahas kegiatan di level kelas masing-masing; dan yang terakhir yaitu pertemuan per kelas (bersama wali kelas) membahas kegiatan kelas, peraturan kelas, dsb.

JJS juga memiliki kegiatan kerjasama dengan sekolah lain yang bertajuk “Persahabatan Antar Sekolah”. Kegiatan ini bermaksud untuk mempererat tali persahabatan dengan sekolah-sekolah lokal di Indonesia. Contoh kegiatannya yaitu bermain permainan tradisional Jepang-Indonesia di JJS atau di sekolah sahabat.

Ada 22 jenis ekstrakurikuler yang tersedia di JJS. Namun, ekskul ini hanya boleh diikuti oleh murid mulai kelas 3 SD. Mengapa kelas 1-2 belum boleh ikut ekskul? Karena murid kelas kecil masih belum bisa mengerti apa yang benar-benar mereka inginkan, sehingga tujuan dari ekskul itu sendiri sulit untuk dicapai. Tujuan dari ekskul yaitu untuk menyalurkan minat dan bakat siswa, sekaligus wadah untuk meraih prestasi bagi sekolah.

Jam Belajar, KBM, dan Manajemen Kelas

Murid JJS masuk pada pukul 07.40 hingga 15.30 WIB. 1 jam pelajaran di JJS berdurasi 45 menit (SD), dan satu hari mencakup sekitar 6 jam pelajaran. Setiap pergantian jam pelajaran, murid diberikan waktu istirahat sekitar 5-10 menit untuk refreshing atau sekedar merapikan kelas. Dalam 1 minggu, ada 40 jam pelajaran secara total di JJS.

Tiap level kelas memiliki jumlah pararel yang berbeda-beda. Kelas 1 ada 6 kelas pararel, kelas 2-4 ada 5 kelas pararel, dan kelas 5-6 ada 4 kelas pararel. Dalam satu kelas, terdapat sekitar 30 murid (maksimal) yang dibimbing oleh satu orang wali kelas. Wali kelas bertugas untuk mengajar semua jenis mata pelajaran, kecuali guru musik, keterampilan (cooking, art&craft, gardening, dll), dan Bahasa Indonesia (jumlah berbeda-beda, tergantung level kelas).

Mata pelajaran IPA mulai diajarkan di kelas 3 SD. Sebelumnya (kelas 1-2), pelajaran IPA diintegrasikan dengan pelajaran lain (istilahnya seperti tematik pada kurikulum 2013 di Indonesia).

Setiap seminggu sekali, murid-murid di semua kelas wajib bergotong-royong untuk membersihkan sekolah. Kegiatan ini bermaksud untuk menumbuhkan rasa kepedulian murid terhadap kebersihan sekolahnya sendiri, serta meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab murid terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Jika murid sudah tau betapa beratnya membersihkan lingkungan sekolah, maka diharapkan mereka akan terbiasa untuk senantiasa menjaga kebersihan .

Ada 2 jam pelajaran khusus kunjungan wajib ke Perpustakaan. Sebelum memasuki perpustakaan, di tiap awal tahun, pustakawannya akan mengajarkan terlebih dahulu tata cara bersikap di dalam perpustakaan, sehingga murid-murid bisa menempatkan diri dan tau tata krama yang harus mereka terapkan selama di dalam perpustkaan. Pada jam istirahat kedua (setelah makan siang), murid-murid diperbolehkan mengunjungi perpustakaan untuk membaca atau meminjam buku.

Di dalam kelas, murid tidak dibiasakan menggunakan tissue. Mereka masing-masing memiliki lap tangan yang dijemur di depan kelas (dengan rapi, tentunya), berfungsi sebagai alat untuk mengelap segala hal yang berkaitan dengan keperluan pribadi (mengelap meja, membersihkan loker pribadi, mengelap peralatan belajar, dll). Jika sudah kotor, maka lap tangan tersebut wajib mereka cuci di toilet sekolah.

Sekolah memiliki peraturan secara umum, namun biasanya tiap kelas memiliki peraturan khusus yang dibuat dan disepakati bersama antara guru dan murid. Tidak ada seragam khusus yang wajib digunakan di JJS, jadi sehari-hari mereka menggunakan pakaian bebas (tetapi kepala sekolah mempertimbangkan akan membuat seragam khusus murid JJS yang digunakan hanya untuk keperluan acara eksternal, seperti field trip)

 

Itulah hal-hal yang saya dapatkan dari kegiatan studi banding ini. Saya jadi semakin memahami sistem pendidikan di Jepang secara umum. Sebelumnya saya juga pernah mencoba mencari-cari tahu sistem pendidikan Jepang lewat internet. Tetapi, dengan mendatangi langsung sekolah Jepang (walau bukan di Jepang) wawasan saya semakin bertambah.

Saya tau, bahwa untuk menerapkan sistem pendidikan seperti ini di sekolah-sekolah di Indonesia tidaklah mudah, khususnya jika pendidikan di sekolah-sekolah formal di Indonesia tidak sejalan dengan apa yang dididik orangtua terhadap anaknya di rumah. Oleh karena itu, perlu adanya kerjasama secara intens antara sekolah dan orangtua untuk sama-sama menjaga komitmen dalam mendidik anak-anak, sehingga anak-anak pun tidak merasa bingung dengan apa yang mereka dapatkan di rumah dan di sekolah.

Semoga kami, dan Anda semua yang membaca tulisan ini, bisa mengambil hikmah/sisi positif yang terdapat di Jakarta Japanese School. Aamiin ya Rabb.

 

Wasalamualaikum, w.w.

 

P.S.: Selama studi banding, kami dilarang keras untuk mengambil foto murid-murid JJS. Hanya diperbolehkan memotret bangunan, itupun tidak boleh disebarluarkan. Maka dari itu, saya tida bisa mencantumkan banyak foto di postingan ini, mohon maaf.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s