Pengalaman Mengikuti Direct Assessment, Calon Pengajar Muda, Indonesia Mengajar

Asalamualaikum, Aloha teman-teman!

Udah 7 bulan semenjak tulisan terakhirku rilis, ya beginilah kalo keinginan untuk nulis belum ada pada tahap rutin, alias masih nulis kalo ada momentumnya aja hehehe😀

Capture

Pada tulisan kali ini, aku mau cerita tentang pengalamanku ikut direct assessment (DA) Pengajar Muda (PM), Indonesia Mengajar (IM). Oh ya, angkatan seleksiku sekarang ini adalah angkatan XIII. Dari sekitar 9000-an lebih pendaftar, yang lolos ke tahap  DA IM ini hanya sekitar 217 orang lho! Pas aku baca e-mail lolos dari panitia IM, rasanya aku bener-bener gak percaya kalo aku bisa lolos. Alhamdulillah, emang kalo udah rejeki gak bakal kemana ya😀

Ada yang heran gak, kenapa pendaftar IM ini membludak banget udah kayak SBMPTN? Padahal ya, para sarjana ini akan ditempatkan di daerah-daerah terpencil lho, dengan segala keterbatasan dan super minim fasilitas. Malah, banyak pendaftar PM ini yang tadinya sudah bekerja di perusahaan besar dengan gaji dollar-dollaran, tapi kok ya masih mau melepas segala kenikmatan yang sudah didapat demi mengajar satu tahun di daerah? Nah, buat yang penasaran sekeren apa sih program IM ini, sampai bisa menarik hati para pemuda hebat untuk daftar, silakan klik link ini untuk kepoin segalanya tentang IM serta program-program lainnya. Siapa tahu kamu yang akan menjadi bagian IM di tahun-tahun berikutnya😉

Back to the point, aku dijadwalkan untuk DA PM XIII pada senin, 18 Juli 2016 di The Energy Building, tepatnya di kawasan SCBD. Ada sekitar 19 orang Calon Pengajar Muda (CPM) yang mengikuti seleksi ini juga bareng aku. Berangkat sekitar pukul 5 pagi dari planet Bekasi, aku naik KRL Commuter Line sampai stasiun sudirman. Sampai sudirman, aku memutuskan untuk order grab bike agar bisa cepat sampai lokasi. Sekitar pukul 7 pagi, aku udah mendarat di The Energy Building Lantai 22. Sudah banyak CPM yang hadir disana, aku pun langsung gabung untuk ngobrol sama mereka. Oh ya, kebetulan temanku dulu waktu masih jadi pengurus FLAC , Evana anak UI, juga ikut seleksi CPM ini dengan jadwal yang sama. Aku nostalgia sama Eva, plus ngobrol-ngobrol sama sesama CPM yang lain. Yang membuatku kaget adalah, ada satu CPM yang berasal dari Kupang, NTT. Wow! Niat sekali dia terbang all the way from NTT to Jakarta khusus buat DA CPM ini. Salut!

Selanjutnya, kita dibawa masuk ke sebuah ruangan (oh ya The Energy Building Lt. 22 ini ternyata adalah kampus Univ. Paramadina khusus Pascasarjana). Pukul 7.30, kita disambut oleh speech yang sangat mengguggah dari Bu Evi, direktur IM. Setelah itu, kita mengikuti psikotest di ruangan yang sama, dengan durasi waktu sekitar 90 menit. Soal-soal psikotestnya gak terlalu sulit, tapi gak bisa disebut gampang juga :’D hamper mirip deh sama TPA kalo mau SBMPTN atau psikotest2 lainnya di luar sana. Gak ada poin plus kalo bener, minus kalo salah. Jadi, kita kalau mau asal ngisi sih boleh-boleh aja. Cuma pas kemaren sih aku gak isi semua, bukan karena gamau ngasal, tapi karena waktunya bener-bener gak cukup walau hanya untuk sekedar ngisi asal-asalan :’D

Setelah otak dipanasin lewat psikotest, kami dibagi jadi dua grup. Setiap grup akan melakukan tahapan FGD (Focus Group Discussion) secara bersama di ruangan yang berbeda. Aku masuk ke grup kedua bareng Kiki, Rani, Ayu, Omen, Lala, dan Yudi. Kita dikasih sebuah kasus tentang masalah pendidikan di sebuah daerah dan beberapa alternatif solusi yang bisa kita pilih. Ada lembar individu, dimana kita dikasih waktu sekita 20 menit untuk menulis pilihan solusi yang kita inginkan secara pribadi. Setelah itu, kita dikasih waktu sekitar 60 menit untuk berdiskusi dengan anggota grup yang lain. Diskusinya sangat menarik, dan disini bakal kelihatan siapa yang vokal, yang sabar, yang yes-yes aja, yang open minded, pokoknya terkuak deh di FGD ini. Untung grup aku anaknya asik-asik, jadi kita juga nyantai diskusinya dan Alhamdulillah bisa mencapai mufakat.

Setelah FGD selesai, grup pertama mendapat jadwal untuk wawancara duluan, sedangkan grup aku kebagian jadwal microteaching. Nah, sesi microteaching ini nih yang menurutku paling seru. Kenapa? Bukan karena seru ngeliatin gimana antusiasnya anak-anak muda yang keren-keren ini mencoba untuk ngajar, tapi seru karena dramatisasi kelas yang di-setting oleh kakak-kakak assessor yang notabene adalah alumni PM angkatan sebelum-sebelumnya. Pada saat itu kakak assessor nanya siapa yang mau jadi yang pertama ngajar. Setelah jeda cukup lama (dan saling tunjuk-tunjukan) akhirnya aku mengorbankan diri untuk jadi tumbal pertama :’D wkwkwkwk. Oh ya, sebelum itu kita juga dikasih lembar isian yang menuntun kita untuk membuat RPP sederhana. Setelah diisi, kemudian RPP itu dikumpulkan ke para assessor.

Salah satu kakak assessor mempersilakan aku untuk keluar ruangan sebentar, sementara dia menyusun skenario kelas yang seperti apa yang akan aku ajar, tentunya CPM yang lain akan berperan jadi anak-anak muridku. Pas aku diperbolehkan masuk, aku disuruh perkenalan diri terlebih dahulu, kemudian CPM yang lain boleh nanya ke aku pertanyaan apa saja seputar hidupku. Setelah itu, barulah proses microteaching dimulai. Aku hanya punya waktu 7 menit untuk mengajar di kelas mini ini. Di 3 menit pertama, suasana kelas terlihat seperti biasa aja (walau yang kurasakan adalah begitu pasifnya anak-anak ini, karena ceritanya kan aku ngajar anak kelas 2 SD, biasanya anak kelas 2 masih suka wara-wiri dan haha hehe). Di menit keempat, mulai ada beberapa anak yang rese. Anak-anak rese ini diperankan oleh Omen dan Lala, yang ceritanya laper minta makan dan mau keluar kelas. Believe me, 7 menit microteaching itu sebagian besar isinya hanya gimana caranya kita manage kelas biar bisa kondusif, sementara ngajar materinya Cuma (super) sedikit. And you know what, aku udah bikin beberapa kartu pop up yang berkaitan dengan materi ajar, tapi GAK KEPAKE karena waktuku habis untuk ngurusin anak-anak (yang ceritanya) rese ini. Setelah 7 menit berakhir, aku dipersilakan duduk, dan temen-temen CPM lainnya refleks pada minta maaf. Ehhehe, tapi aku maklum sih, dan sudah kuduga semuanya ini udah di-setting sama kakak assessornya, jadi gak perlu maaf-maafan (udah kayak lebaran aja).

Skenario untukku ternyata gak ada apa-apanya dibanding dengan skenario CPM yang lain. Lucky me, ternyata yang maju pertama gak terlalu dibikin susah-susah banget :’D skenario CPM lainnya macem-macem deh, ada yang ceritanya pas lagi ngajar ada gempa bumi lah, ada anak yang jualan di kelas lah, ada anak autis lah, ada ortu murid yang tiba-tiba ngajak anaknya untuk pulang dan bantuin ortunya kerja lah, ada yang anak-anaknya gak bisa bahasa Indonesia lah, pokoknya seru deh. Kita udah berasa kayak aktor aja, nge-drama terus boooo… wkwkwkkw kocak pokoknya :’D

Setelah itu, kita istirahat makan siang dan sholat dzuhur, dilanjut dengan sesi wawancara. Wawancara dilakukan secara paralel di sebuah aula. Ada dua tahap wawancara, yang pertama tahap 60 menit wawancara bareng satu assessor, dan yang kedua tahap 30 menit bareng assessor yang lain. Di tahap pertama, aku diwawancarai oleh Bu Ades. Nampaknya bu Ades ini adalah seorang psikolog, dilihat dari raut wajahnya yang sangat adem dan selalu mendengarkan dengan baik setiap jawabanku. Bu Ades juga suka senyum, jadi bikin sesi wawancara ini gak menegangkan, kayak lagi ngobrol sama dosen favorit. Satu jam bersama Bu Ades selesai, lanjut ke Mas Dimas. Aku diwawancarai oleh Mas Dimas selama 30 menit. Mas Dimas juga pendengar yang baik, 30 menit pun menjadi gak berasa. Baru berasa capeknya setelah keluar dari ruangan, oh God 1,5 jam cuap-cuap nonstop ternyata bikin tenggorokan aku kering. Untungnya panitia bener-bener tau apa yang kita rasakan. Pas sampe ruang tunggu, udah aku air putih sama snack sore buat kita, yoohoo…

Setelah proses wawancara selesai, dan grup pertama pun selesai dengan sesi microteachingnya, kami semua dikumpulkan lagi ke dalam sebuah ruangan. Kami kira DA-nya udah kelar, karena pada saat itu jam udah menunjukkan jam 4 sore. Ternyata eh ternyata, kami semua lupa kalo ada satu sesi lagi yang harus kita selesaikan, yaitu psikotest grafis. Pada sesi ini, kita disuruh ngegambar beberapa gambar dan penjelasannya. Gak lama kok, hanya 15 menit aja, kemudian yang terakhir kita disuruh ngisi surat pernyataan tentang kondisi kesehatan, seperti riwayat penyakit, kecelakaan, phobia, alergi, dll. Sekitar jam setengah lima, semua proses direct assessment CPM XIII resmi selesai. Tak lupa kita berfoto bersama untuk mengenang moment tersebut.

13692660_1069915443102836_6659714289346448873_n

Bagiku, bertemu dengan mereka itu gak kayak ketemu saingan. Rasanya kayak ketemu temen aja, kita ngobrol, ngelawak, bahkan sampe curhat wkwkwk. Padahal kita baru di hari itu ketemu dan kenalan. Ya begitulah, kalo kita ketemu dengan orang-orang yang satu visi misi, kita akan merasa nyaman dan antusias.

Apapun hasilnya nanti, aku tawakalkan hanya kepada Allah SWT, karena hanya Dia Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk setiap hamba-hambaNya. Yang penting, aku sudah berusaha semaksimal mungkin pada proses direct assessment ini. Insha Allah, seperti statementku di awal tulisan ini: “kalo udah rejek gak akan kemana” hehehehe…

Sekian… makasih udah baca🙂

 

Bekasi, 23.19 WIB

Ditulis sambil makan kacang bumbu Thailand, oleh-oleh dari Bu Citra, Famili SabangMerauke-ku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s